LETAK GEOGRAFIS
Dusun Sawo secara administratif termasuk dalam wilayah pedukuhan Dukuhan, desa Sendang Agung, kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun ini terletak kurang lebih 27 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, tepatnya di bagian barat kota Yogyakarta.
Secara geografis, dusun Sawo berada di tepi Sungai Progo (kurang lebih 200 meter dari bagian barat tepi sungai Progo). Antara dusun Sawo dan Sungai Progo dibatasi oleh jurang sedalam kurang lebih 100 meter.
Secara kebetulan, dusun Sawo berdekatan dengan makam Eyang Tunggul Wulung, yang setiap tahunnya dipakai untuk upacara ritual budaya Kirab Tombak Pusaka Tunggul Wulung.
Dari sisi lain, dusun Sawo merupakan dusun yang berada pada ujung saluran sekunder Selokan Van der Wijk, salahsatu selokan yang bersama dengan Selokam Mataram berujung di Bendungan Karangtalun, sebuah bendungan yang membendung Sungai Progo. Setelah melewati dusun ini, airnya kembali ke sungai Progo melalui bagian selatan dusun. Pasokan air yang sampai di dusun Sawo sangat minim karena harus dibagi dengan kebutuhan air untuk pertanian yang ada di bagian depan dusun Sawo. Bahkan pada bulan tertentu (Agustus) pasokan air dari Selokan Van der Wijk terhenti total karena setiap tahun dilakukan pengeringan total atas selokan Mataram dan selokan Van der Wijk.
Dilihat dari jumlah penduduknya, dusun Sawo sebenarnya hanya sekitar 70 orang karena sebenarnya dusun ini hanyalah sebuah RW dari pedukuhan Dukuhan. Ada sekitar 30 kepala keluarga yang sebagian besar anaknya meninggalkan dusun ini untuk bekerja di tempat lain seperti Tangerang dan Jakarta. Hanya ada beberapa anak muda yang masih tinggal di dusun ini. Sebagian besar penduduk dusun ini masih kerabat, berasal dari satu mbah buyut.Mata pencaharian sebagian besar penduduk dusun Sawo adalah bertani, namun lahan pertaniannya tidak terletak di dusun Sawo. Lahan mereka terutama terletak di wilayah Tengahan, Diro, dan Nanggulan yang merupakan dusun tetangga. Sementara lahan pertanian yang terletak di pinggir dusun Sawo merupakan lahan milik orang-orang di luar dusun. Lahan persawahan produktif inilah yang sedikit-demi sedikit mulai tahun 1998 disewa oleh penduduk dusun Sawo untuk merintis usaha pembibitan ikan gurami. Caranya adalah dengan mengganti panenan setiap kali terjadi musim panen padi. Jumlah padi penggantinya adalah sebesar panenan terbaik lahan tersebut, bisa dalam bentuk barang (padi), bisa dalam bentuk uang.
CIKAL BAKAL PEMBIBITAN
Sekitar tahun 1980-an ketika kegiatan pengiriman bibit ikan gurami dari Purwokerto ke Jogjakarta cukup marak, ada sejumlah pedagang bibit di daerah Sawo yang membuat kolam-kolam penampungan. Bibit-bibit itu selama beberapa waktu ditebar di kolam-kolam tersebut dan selanjutnya dijual ke sejumlah petani di daerah Minggir dan sekitarnya. Pada waktu itu belum terpikir sama sekali bahwa ikan gurami dapat menetas secara alamiah.Kegiatan budidaya ikan gurami di daerah Minggir waktu itu hanyalah kegiatan pembesaran. Bibit gurami selalu didatangkan dari Purwokerto yang kadang-kadang banyak yang mati karena jarak tempuhnya terlalu jauh.Pada waktu itu, kegiatan pembesaran gurami di daerah Minggir cukup marak. Bahkan sejumlah pedagang di daerah Minggir sempat mengirimkan sejumlah ikan konsumsinya ke Surabaya dan Jakarta.
Namun, lama kelamaan kegiatan budidaya itu semakin mundur karena factor keamanan (banyak ikan konsumsi dicuri), factor air, dan pedagang yang tidak disiplin dalam membayar (banyak ikan diutang). Akibatnya, banyak kolam budidaya pembesaran gurami yang terlantar dan dibiarkan saja oleh pemiliknya. Bermula dari sinilah penduduk dusun Sawo mengetahui bahwa ikan gurami dapat menetas secara alamiah.Beberapa penduduk dusun Sawo yang waktu itu memiliki beberapa ikan gurami besar di kolam persawahan menemukan adanya bibit gurami.
Munculnya bibit gurami yang tidak diduga tersebut memancing sejumlah orang seperti Pak Niti Pawiro untuk mencoba membudidayakan ikan gurami secara alamiah. Caranya cukup sederhana, kolam ikan di areal persawahan diberi beberapa ikan gurami besar dan dibiarkan saja. Lama-kelamaan pasti muncul ikan gurami kecil yang jumlahnya berkisar antara 200 – 500 ekor.
Antara tahun 1980 sampai dengan 1990-an hanya ada beberapa orang dusun Sawo yang memproduksi bibit ikan gurami dengan model alamiah seperti itu. Mereka adalah Bapak Niti Pawiro, Bapak Man, dan Bapak Tejo Hartono. Wilayah dusun Sawo juga masih dikelilingi persawahan.
Ketika terjadi krisis pertanian di daerah Minggir ( sekitar tahun 1990-1996 di daerah Minggir khususnya blok Tengahan-Sawo sering terjadi gagal panen baik karena wereng maupun tikus), beberapa orang penduduk dusun Sawo mulai melirik sector perikanan. Pada mulanya beberapa penduduk mencoba melakukan budidaya pembesaran ikan lele dumbo. Namun, ternyata budidaya lele dumbo ini hancur bersamaan dengan terjadinya krisis perekonomian di negara kita. Harga pakan yang terus naik tidak dibarengi dengan kenaikan harga ikan konsumsi.Sementara itu, sejumlah penduduk yang melakukan budidaya bibit gurami secara konvensional ternyata tahan banting. Mereka tidak bangkrut karena krisis perekonomian, bahkan permintaan bibit gurami semakin meningkat karena banyak petani ikan lele dumbo beralih ke budidaya ikan gurami. Kolam-kolam pembesaran lele dumbo banyak diisi dengan bibit gurami ukuran tiga jari atau sekilo isi sepuluh ekor.
Melihat gejala naiknya permintaan bibit ikan gurami, banyak anggota masyarakat yang tertarik untuk ikut-ikutan mencoba menetaskan gurami. Mereka mulai mengubah sawahnya yang kurang produktif (waktu itu harga gabah hanya Rp 500 per kilo) menjadi kolam ikan. Bahkan ada beberapa orang di dusun Sawo yang mulai menyewa sawah di pinggir dusun Sawo dengan cara menggantinya dengan gabah setara dengan hasil panenan terbaik.
Melihat perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, sejumlah anggota masyarakat mulai rasan-rasan ingin membentuk sebuah kelompok perikanan. Dari perbincangan yang tidak resmi tersebut sejumlah tokoh masyarakat (Pak Danu dan Pak Mardiyo) berusaha berdialog dengan PakHadjid Badawi selaku kepala desa dan Pak Tri selaku PPL Kecamatan Minggir untuk menjajagi kemungkinan dibentuknya kelompok tani ikan.
Upaya tersebut ternyata mendapat sambutan cukup baik dari pihak desa dan PPL. Setelah melalui beberapa kali pertemuan awal dan penawaran pada masyarakat, akhirnya pada tanggal 11 Mei 1998 secara resmi terbentuk Kelompok Tani Ikan “Mino Tumangkar” dengan anggota sebanyak 22 orang dengan kekayaan pertama sebesar Rp 220.000,00 (dua ratus dua puluh ribu rupiah) dan kolam sekitar 60 petak (rata-rata kolam di dusun Sawo berukuran 3 x 10 meter).
UPAYA PENGEMBANGAN KELOMPOK
Pada mulanya KTI “MINO TUMANGKAR” melakukan kegiatan pembibitan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, artinya seluruh modal usaha berasal dari swadaya para anggotanya. Karena permintaan bibit gurami semakin hari semakin banyak, pengurus berusaha mengajukan pinjaman penguatan modal melalui PPL Perikanan Kecamatan Minggir. Rencananya, pinjaman penguatan modal tersebut akan digunakan untuk meningkatkan produktivitas bibit dengan cara menambah lahan sehingga kelompok mampu memenuhi permintaan pasar.Dengan berbagai upaya, pada akhirnya kelompok pada tahun 2001 berhasil memperoleh Pinjaman Penguatan Modal sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Pinjaman tersebut didistribusikan pada anggota kelompok berdasarkan musyawarah anggota. Walaupun jumlahnya tidak begitu besar, pinjaman tersebut mampu memberikan semangat bagi para anggota untuk melakukan penambahan jumlah kolam dan induk. Tercatat pada akhir Desember 2001, jumlah kolam yang dimiliki anggota sebanyak 154 buah dengan jumlah induk sebanyak 920 kilogram. Total bibit yang berhasil dijual pada tahun itu adalah 43.950 ekor.Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah bibit yang diproduksi semakin banyak.
Berhubung permintaan terus bertambah, bahkan sudah mulai ada permintaan dari daerah yang agak jauh, kelompok sepakat untuk melakukan pengembangan usaha lagi. Maka pengurus berkonsultasi dengan PPL Kecamatan Minggir untuk memperoleh pinjaman yang lebih besar setelah pinjaman sebelumnya dilunasi tepat waktu. Akhirnya, pada tahun anggaran 2002 kelompok mendapat pinjaman Penguatan Modal sebesar Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). Sama dengan proses sebelumnya, pinjaman tersebut didistribusikan kepada anggota berdasarkan musyawarah dan kebutuhan anggota. Dengan adanya pinjaman tersebut, kegiatan pembibitan gurami di dusun Sawo menjadi semarak.
Pada pertengahan tahun 2003 jumlah kolam yang dimiliki kelompok sebanyak 216 kolam tanah dan 48 kolam permanen (untuk penyemaian bibit) dengan jumlah bibit yang ada di kolam sebanyak 91.200 ekor. Kalau dihitung dengan rupiah, taksiran kekayaan kelompok sebesar Rp 85.984.000,00 (delapan puluh lima juta sembilan ratus delapan puluh empat ribu rupiah).Berhubung kelompok tidak memberlakukan system penjualan satu pintu, pengurus tidak dapat mendata jumlah ikan yang telah dijual oleh para anggotanya. Yang jelas arus bibit keluar cukup lancar dan banyak. Terbukti kelompok tidak mampu membesarkan bibit lebih dari ukuran dua jari (seharga Rp 800,-) karena bibit selalu habis terjual. Berdasarkan pencatatan seorang petani (Bapak Mardiyo) selama enam bulan dia sudah melakukan transaksi penjualan sebesar Rp 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah) yang berarti bibit terjual dari satu petani bisa mencapai sekitar 15.000 ekor dalam satu masa tebar (sekitar 3-5 bulan).
Produksi besar-besaran bibit ikan gurami di KTI Mino Tumangkar terjadi antara pertengahan tahun 2002 sampai dengan pertengahan tahun 2003. Pada waktu itu pengurus tidak melakukan pengendalian jumlah induk sehingga produksi telur dan bibit sangat banyak. Bahkan banyak telur gurami yang dijual keluar kelompok. Di samping itu, banyak masyarakat di sekitar dusun Sawo yang mulai belajar menetaskan ikan gurami. Akibatnya, penjualan bibit agak tersendat. Ditambah lagi masalah pemesatan selokan Mataran dan Van Der Wijk yang dengan sendirinya sangat mempengaruhi kelancaran penjualan bibit dari kelompok.Danpak yang langsung dirasakan oleh kelompok adalah semakin beratnya biaya pemeliharaan bibit. Petani terpaksa harus memelihara bibit lebih lama, bahkan ada yang sampai berukuran empat jari dan kiloan. Jelas modal anggota kelompok belum mencukupi.
Melihat gejala tersebut, pengurus berusaha mencari solusi dengan cara berkonsultasi dengan PPL Kec. Minggir selaku pembina langsung. Dari konsultasi tersebut diperoleh kesepakatan bahwa apabila bibit kurang lancar pemasarannya, kelompok akan membesarkannya sendiri, kalau perlu dibesarkan sampai menjadi ikan konsumsi di mana ikan gurami konsumsi masih sangat dibutuhkan (permintaan masih tinggi). Konsekuensinya PPL akan berusaha mencarikan bantuan permodalan.
Dan, pada bulan September 2003 kelompok memperoleh Pinjaman Penguatan Modal sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Pinjaman tersebut semakin memperkuat kelompok. Hal itu dapat dilihat dari data pada bulan September 2004 di mana tercatat jumlah kolam yang dimiliki kelompok sebanyak 287 kolam dengan kapasitas tampung sebanyak 152.000 ekor. Mulai musim penghujan 2003 (sekitar bulan November 2003) pemasaran bibit mulai semarak lagi.
Dalam analisis kelompok, lancarnya penjualan bibit ini dipengaruhi oleh tiga factor. Faktor pertama adalah kebijakan kelompok untuk tidak lagi melayani permintaan telur. Seluruh telur gurami yang dihasilkan oleh kelompok tidak boleh dijual keluar kelompok. Hal itu dilakukan karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh bagian litbang kelompok, penjualan telur gurami mengakibatkan tidak terkontrolnya jumlah bibit di luar kelompok, yang pada akhirnya akan menghambat penjualan bibit kelompok.
Faktor kedua adalah kebijakan kelompok untuk melakukan standardisasi harga. Berhubung kelompok tidak menerapkan system penjualan satu pintu, harga menjadi bervariasi, bergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli. Setelah diamati ternyata hal ini merugikan petani sendiri karena banyak pedagang yang enggan membeli bibit di kelompok karena harganya tidak tentu. Pengurus akhirnya menentukan harga standar sesuai dengan ukuran bibit dan juga menentukan harga yang berbeda antara pembeli langsung dan pedagang.
Faktor ketiga adalah adanya upaya pemasaran melalui jaringan kelompok (forum komunikasi). Secara rutin kelompok mengirim utusan (dan memberi uang saku) untuk menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok maupun pertemuan lainnya. Di sana mereka mempromosikan bibit gurami mino tumangkar. Pada musim penghujan ternyata banyak orang baru baik pedagang maupun petani yang datang langsung ke dusun Sawo untuk membeli bibit.Akibat lancarnya penjualan bibit, memasuki musim kemarau 2004 (mulai Juli 2004) jumlah bibit yang ada di kolam petani tinggal sekitar 53.200 ekor dari daya tampung kolam sebanyak 152.000 ekor. Karena jumlah bibit yang ada di kelompok tinggal sedikit dan terjadi krisis air pada bulan Agustus 2004 sampai dengan Oktober 2004, banyak induk yang macet produksi telurnya. Hal ini berdampak langsung pada saat musim penghujan 2004 (Bulan November 2004) di mana kelompok tidak mampu memenuhi permintaan para pelanggan. Harga bibit waktu itu melonjak cukup tinggi karena stok sedikit sementara permintaan banyak sekali.
Sampai saat ini, usaha pembenihan ikan gurami yang dilakukan oleh kelompok tidak mengalami hambatan cukup berarti. Bahkan dengan jumlah kolam yang begitu banyak, kelompok masih belum bisa memenuhi permintaan pasar.
Februari 7, 2009 pukul 10:32 pm |
jual telur gurami pa tdk?
Maret 21, 2009 pukul 2:53 pm |
subhanallah…
bapak, kami tertarik utk silaturahmi ke tempat bapak.kami ingin ngangsu kawruh terkait pengelolaan kelompok yang sangat dinamis. kebetulan saya sedang membuat kelompok tani ikan di magelang. siapa tahu nantinya bisa ada kerjasama
April 24, 2009 pukul 3:51 pm |
Saya tertarik ingin membuat usaha peternakan ikan gurame. Tapi saya belum punya ilmu apapun. Saat ini saya memiliki lahan sebesar 200m persegi yang tidak digunakan. Rencananya ingin saya manfaatkan untuk ternak gurame. Dapatkah bapak memberi pencerahan kepada saya, bagaimana awal mula beternak gurame, berapa modalnya, apa saja yang perlu dipersiapkan, dll. Terimakasih sebelumnya atas bantuan bapak.